PADANG, SENTERSUMBAR.COM – Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menembus level Rp18.000 belum mengubah pola transaksi valuta asing di Kota Padang.
Sejumlah pelaku usaha penukaran uang atau money changer menyebut transaksi yang paling banyak dilakukan masyarakat masih didominasi ringgit Malaysia, riyal Arab Saudi, dan baht Thailand.
Berdasarkan pantauan di sejumlah money changer di Kota Padang, aktivitas jual beli dolar AS masih berlangsung normal tanpa lonjakan transaksi yang signifikan. Masyarakat yang memiliki dolar cenderung menahan asetnya sambil menunggu perkembangan nilai tukar berikutnya dibandingkan langsung menukarkannya ke rupiah.
Salah seorang staf money changer di kawasan Pasar Raya Padang mengatakan perputaran dolar relatif lebih kecil dibandingkan mata uang negara tetangga yang lebih banyak digunakan masyarakat Sumatera Barat.
“Yang paling banyak tetap ringgit Malaysia. Kemudian riyal Arab Saudi, terutama saat musim haji dan umrah. Setelah itu baht Thailand dan dolar Singapura,” ujarnya, Rabu (10/6/26).
Menurutnya, transaksi penukaran dolar ke rupiah dalam kondisi normal tidak terlalu besar. Bahkan pada hari-hari tertentu tidak terdapat transaksi dolar sama sekali.
Sebaliknya, ringgit Malaysia hampir setiap hari menjadi mata uang asing dengan volume transaksi tertinggi. Tingginya mobilitas masyarakat Sumbar ke Malaysia untuk bekerja, berobat, maupun berwisata menjadi salah satu faktor utama tingginya permintaan terhadap ringgit.
Sementara itu, kebutuhan riyal Arab Saudi masih didorong oleh keberangkatan jamaah haji dan umrah. Adapun baht Thailand dan dolar Singapura banyak dicari untuk kebutuhan perjalanan bisnis maupun wisata.
Hal senada disampaikan Susanti, staf money changer di kawasan Jalan Ratulangi Padang. Menurutnya, penguatan dolar memang membuat masyarakat lebih sering memantau perkembangan kurs, namun belum mendorong peningkatan transaksi secara signifikan.
“Orang lebih banyak bertanya harga dolar daripada benar-benar menukar uang. Mereka ingin tahu perkembangan kurs dan dampaknya terhadap kebutuhan ke luar negeri,” katanya.
Ia menambahkan, sebagian masyarakat mulai mengkhawatirkan dampak kenaikan dolar terhadap biaya pendidikan internasional, perjalanan luar negeri, hingga kebutuhan pengobatan di negara lain. Namun sejauh ini kekhawatiran tersebut belum tercermin dalam peningkatan transaksi penukaran dolar.
Pelaku usaha valuta asing memperkirakan dampak penguatan dolar akan lebih terasa apabila tren kenaikan berlangsung dalam jangka panjang. Selain berpotensi meningkatkan biaya kebutuhan yang berkaitan dengan luar negeri, pelemahan nilai tukar rupiah juga dapat memengaruhi daya beli masyarakat terhadap berbagai produk impor.
Meski demikian, hingga saat ini transaksi valuta asing di Kota Padang masih menunjukkan pola yang relatif sama. Ringgit Malaysia, riyal Arab Saudi, dan baht Thailand tetap menjadi mata uang yang paling banyak dicari masyarakat, sementara dolar AS belum menjadi primadona di loket-loket penukaran uang. (*)