PADANG, SENTERSUMBAR.COM – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus memperkuat pengembangan industri rendang sebagai salah satu produk unggulan UMKM yang memiliki potensi besar di pasar nasional hingga internasional. Berbagai strategi disiapkan, mulai dari peningkatan kualitas produk, perluasan pemasaran, hingga menekan biaya produksi agar semakin kompetitif.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumatera Barat, Endrizal, mengatakan rendang merupakan produk khas Minangkabau yang telah dikenal luas dan diproduksi hampir di seluruh daerah di Sumbar. Kondisi tersebut menjadi modal besar untuk memperkuat daya saing industri rendang di berbagai segmen pasar.
"Pertama, kami melihat rendang ini di mana-mana di Sumatera Barat ada. Maka tentu kita meningkatkan kualitasnya, bagaimana pemasarannya, dan bagaimana ongkos produksinya bisa ditekan sehingga menjadi kompetitif dengan produk-produk lainnya," kata Endrizal, Selasa (23/6/26).
Menurutnya, pemerintah juga membidik pasar yang lebih luas, termasuk kebutuhan konsumsi jemaah haji dan umrah asal Indonesia. Peluang tersebut dinilai sangat potensial mengingat rendang merupakan makanan yang tahan lama dan telah menjadi salah satu kuliner favorit masyarakat Indonesia.
"Harapan kita ke depan, bagaimana perjalanan haji dan umrah bisa diisi oleh para pengusaha rendang ini. Ini peluang pasar yang sangat besar bagi pelaku UMKM kita," ujarnya.
Selain memperluas pasar, Pemprov Sumbar juga berupaya menekan biaya produksi melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi rantai pasok. Saat ini biaya produksi rendang masih relatif tinggi sehingga perlu dilakukan berbagai langkah agar harga jual lebih kompetitif.
Endrizal mencontohkan, biaya produksi yang saat ini mencapai sekitar Rp70 ribu per kilogram diharapkan dapat ditekan menjadi sekitar Rp60 ribu per kilogram tanpa mengurangi kualitas produk.
"Misalnya satu kilogram produksi membutuhkan biaya sekitar Rp70 ribu. Bagaimana kita tekan menjadi Rp60 ribu sehingga daya saingnya meningkat. Salah satu caranya adalah pemerintah mendorong ketersediaan bahan baku, termasuk program sejuta kelapa yang didorong melalui Dinas Pertanian," jelasnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar juga mendorong pembentukan koperasi dan pelaku UMKM yang fokus menyediakan bahan baku rendang. Langkah ini dinilai penting karena proses pembuatan rendang membutuhkan sekitar 23 jenis bahan baku dengan harga yang kerap berfluktuasi.
Melalui penguatan koperasi sebagai penyedia bahan baku, pemerintah berharap pasokan menjadi lebih stabil, biaya produksi dapat ditekan, serta industri rendang Sumatera Barat semakin berkembang dan mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. (hdr)