Juru Bicara Kepolisian, Robert Dagun, mengatakan sebagian bangunan Rumah Sakit St. Elizabeth di General Santos mengalami kerusakan berat. Akibatnya, pasien dan tenaga medis harus dievakuasi, sementara layanan kesehatan sementara dipindahkan ke area luar gedung utama rumah sakit.
Mary Ann Blanco Rhudy, seorang biarawati Katolik yang bekerja di Notre Dame of Dadiangas University, mengaku sedang dalam perjalanan menuju kampus saat gempa terjadi.
"Kendaraan di jalan bergerak tidak beraturan. Saya beruntung karena kendaraan-kendaraan itu tidak saling bertabrakan," ujar Rhudy kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan, pohon-pohon di sepanjang jalan bergoyang sangat kuat ketika gempa berlangsung. Beberapa bangunan di kampus tempatnya bekerja juga mengalami kerusakan sebagian.
Menanggapi bencana tersebut, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menyatakan seluruh lembaga tanggap darurat telah diaktifkan, termasuk Office of Civil Defence dan National Disaster Risk Reduction and Management Council (NDRRMC).
Marcos juga memerintahkan penutupan sekolah-sekolah di wilayah terdampak. Berdasarkan laporan Philippine News Agency, sekitar 3,2 juta siswa serta 128.000 guru dan tenaga kependidikan terdampak pada hari pertama tahun ajaran yang seharusnya dimulai pada Senin.
"Keselamatan anak-anak kami adalah yang utama," kata Marcos.
Peringatan tsunami sempat dikeluarkan di sejumlah negara Asia, termasuk Filipina dan Indonesia. Namun, otoritas terkait kemudian mencabut sebagian besar peringatan tersebut. Meski demikian, peringatan tsunami masih diberlakukan untuk beberapa wilayah pesisir selatan Jepang dan pulau-pulau terluarnya.
Warga yang berada di wilayah pesisir diminta tetap menjauhi muara sungai dan kawasan pantai hingga ada pemberitahuan resmi lebih lanjut dari otoritas setempat. (hdr)