PADANG SENTER SUMBAR
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat. Sejumlah pengendara kendaraan bermotor di Kota Padang mengaku beralih menggunakan Pertalite karena menilai harga Pertamax saat ini sudah terlalu tinggi dan memberatkan pengeluaran harian.
Osman petugas pengawas salah satu SPBU dikota padang mengatakan,permintaan akan bbm subsidi jenis pertalite saat ini meningkat hampir dua kali lipat, jika biasanya dalam sehari menghabiskan 14 kiloliter perhari saat ini melonjak hingga 24 kiloliter perhari.hal tersebut disebabkan selisih harga yang tinggi yakni pertalite Rp 10.00perliter sedangkan Pertamax Rp 17 000 perliter dan Pertamax Turbo RP 21 650 perliter.
Sementara itu untuk jenis BBM non subsidi jenis pertamax dan pertamax turbo penjualaan jauh menurun biasnaya dalam sehari bisa menghabiskan 8 kiloliter sat ini baru habis dua hari bahkan lebih, tidak itu saja untuk bbm jenis solar juga mengalamai permintaan hampir dua kali lipat, sebab harga solar Rp 6800 perliter sedangkan jenis dexlite Rp 24 000 ribu perliter dan dan pertamina Dex rp 29.500 perliter, sehingga banyak mobil mewah yang beralih ke bbm subsidi jenis solar.
Salah seorang pengendara sepeda motor, Andreas, mengaku telah mengganti penggunaan BBM kendaraannya dari Pertamax ke Pertalite dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, kenaikan harga Pertamax membuat biaya operasional kendaraan menjadi lebih besar dibanding sebelumnya."Harganya terlalu tinggi,dan terlalu mahal.
Ia menilai penggunaan Pertalite menjadi pilihan yang lebih ekonomis di tengah kondisi kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat. Meski menyadari kualitas Pertamax lebih baik, Andreas mengaku harus menyesuaikan pengeluaran agar tetap dapat memenuhi kebutuhan lainnya
.
Hal serupa disampaikan oleh Wati, seorang pemilik kendaraan roda 4 yang juga memilih beralih ke BBM jenis solar setelah harga Dexlitemengalami kenaikan yang fantastis. Menurutnya, selisih harga kedua jenis BBM tersebut cukup berpengaruh terhadap pengeluaran. Meski seharusnya kenaraannya harus menggunkan BBM jenis Dexlite, untuk mensiasti gaar tidak ada kerusakan mobilnya, ia mempunyai trik tersendiri yakni menukar saringan bbm di mobilnya per 2000 kilometer.hal tersebut sesuai dengan rahan mekanik bengkel service langganannya.
Wati mengatakan, penggunaan solar subsidi untuk mobil pajero yang ia kemudikan setiap hari . saat ini dirasa lebih sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarganya. Dengan mobilitas kerja yang cukup tinggi setiap hari, penghematan biaya bahan bakar menjadi salah satu langkah yang harus dilakukan.
"Kami terpaksa memilih solar subsidi karena lebih terjangkau. Kalau terus memakai Dexlite, biaya yang dikeluarkan tentu lebih besar," kata Wati.
Fenomena beralihnya sebagian pengguna Bbm Non Subsidi ke Bbm Subsidi menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM memiliki dampak langsung terhadap perilaku konsumsi masyarakat. Faktor kemampuan ekonomi menjadi pertimbangan utama bagi pengendara dalam menentukan jenis bahan bakar yang digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari