Industri Tekstil dan Plastik Mulai Optimistis
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil Syauqi, menyambut positif meredanya konflik di Timur Tengah.
“Iya bagus kalau memang ada gencatan senjata. Semoga hasil ini sifatnya permanen dan tidak ada eskalasi lagi,” ujarnya.
Namun, ia mengungkapkan harga bahan baku tekstil masih fluktuatif karena sebagian industri masih menggunakan stok yang dibeli saat harga minyak berada di level tinggi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, mengatakan pembukaan Selat Hormuz diperkirakan mempercepat penurunan harga bahan baku industri plastik.
Menurutnya, harga bahan baku telah turun sekitar Rp4.000 per kilogram dalam beberapa pekan terakhir dan harga resin diperkirakan kembali mendekati level sebelum konflik.
“Artinya harga barang plastik lebih murah lagi dan makin dekat ke harga normal,” katanya.
Meski prospek biaya produksi membaik, industri masih menghadapi tantangan lain seperti ketersediaan bahan baku dan keandalan pasokan listrik di sejumlah kawasan industri.
Pelaku industri berharap penurunan harga energi juga diikuti dengan perbaikan pasokan listrik sehingga utilisasi pabrik dapat kembali meningkat dan daya saing manufaktur nasional semakin kuat.(hdr)