Arus Minyak Melalui Selat Hormuz Kembali Normal
Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kini hampir kembali seperti sebelum konflik terjadi.
Dalam 24 jam terakhir, sekitar 20 juta barel minyak telah melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Meski demikian, Wright mengatakan proses normalisasi sepenuhnya masih membutuhkan waktu beberapa pekan karena jalur pelayaran harus dipastikan aman dari ranjau yang tersisa.
Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran juga membuka ruang negosiasi selama 60 hari untuk membahas berbagai isu, termasuk program nuklir Iran.
Di sisi lain, Oman telah membuka jalur pelayaran sementara guna memperlancar pergerakan kapal tanker minyak. Pemerintah Qatar juga melakukan pembicaraan dengan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz bersama Iran, Irak, dan negara-negara Teluk.
Pasar Masih Mencermati Kebijakan The Fed
Meski harga minyak melemah, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Menurut Ibrahim, masih terdapat perbedaan pandangan di kalangan pejabat bank sentral Amerika Serikat mengenai arah suku bunga hingga akhir 2026.
"Penurunan harga minyak belum sepenuhnya mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed karena sebagian pejabat masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga menjelang akhir 2026," katanya.