JAKARTA, SENTERSUMBAR.COM – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memanas. Situasi tersebut turut memengaruhi pasar energi global dan mendorong harga minyak dunia bertahan di level tinggi.
Eskalasi konflik dipicu oleh insiden jatuhnya helikopter Apache milik Amerika Serikat di dekat Selat Hormuz pada Senin (8/6/26). Pemerintah AS menyebut kedua awak helikopter berhasil diselamatkan melalui operasi evakuasi menggunakan pesawat nirawak laut.
Sebagai respons atas insiden tersebut, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran pada Rabu (10/6/2026) dini hari. Beberapa fasilitas yang menjadi target antara lain sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan lokasi radar di sekitar Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas serangan tersebut. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah menyerang 21 target yang berkaitan dengan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia, termasuk fasilitas dan pangkalan militer di Bahrain, Yordania, serta sejumlah lokasi lainnya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya tidak akan tinggal diam terhadap serangan yang dilakukan Amerika Serikat.
“Meskipun mengalami kekalahan di medan perang, Amerika memilih untuk menguji tekad kami,” tulis Araghchi melalui akun media sosial X.
Ketegangan kawasan juga dipicu perkembangan terbaru di Lebanon. Pasukan Israel dilaporkan melancarkan serangan ke wilayah Lebanon selatan pada Selasa (9/6/2026). Sebelumnya, Iran telah memperingatkan bahwa operasi militer baru terhadap kelompok sekutunya di kawasan dapat memicu serangan balasan lebih luas.
Meski konflik terus meningkat, Iran dan Amerika Serikat sebenarnya masih berada dalam jalur diplomasi. Namun, eskalasi militer terbaru membuat prospek perundingan kedua negara menjadi semakin tidak pasti.