Pasar Global Bergejolak
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah langsung berdampak pada pasar keuangan global. Bursa saham Asia mengalami tekanan akibat kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan stabilitas kawasan dan rantai pasok energi dunia.
Indeks Nikkei Jepang tercatat melemah sekitar 2 persen, sementara indeks Kospi Korea Selatan yang didominasi saham teknologi turun sekitar 6 persen pada perdagangan Rabu (10/6/2026).
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent sempat mendekati level USD 95 per barel setelah konflik meningkat. Namun pada perdagangan berikutnya, harga terkoreksi tipis sekitar 0,2 persen dan berada di kisaran USD 91,28 per barel.
Analis Deutsche Bank, Jim Reid, menilai pasar saat ini menghadapi dua sumber ketidakpastian besar, yakni konflik geopolitik di Timur Tengah dan gejolak sektor teknologi global.
“Pasar saat ini berayun antara euforia kecerdasan buatan seperti era 1999 dan ketakutan terhadap kehancuran sektor teknologi seperti tahun 2000,” ujarnya.
Para pelaku pasar kini terus mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia. Jika konflik terus meluas, bukan tidak mungkin harga minyak dunia kembali mengalami lonjakan yang berpotensi memengaruhi perekonomian global, termasuk Indonesia. (*)