PADANG, SENTERSUMBAR — Olahraga tradisional Sepak Rago di Kota Padang terus menunjukkan perkembangan. Keberadaan komunitas serta persatuan Sepak Rago di tingkat kecamatan dan kota menjadi salah satu upaya untuk menjaga permainan tradisional Minangkabau tersebut agar tetap hidup dan dikenal oleh masyarakat, khususnya generasi muda.
Ketua pelaksana kegiatan, Baron, yang juga Ketua Ormas GRIB Kecamatan Koto Tangah, mengatakan pihaknya menggelar berbagai perlombaan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Salah satu perlombaan yang menarik perhatian adalah Sepak Rago. Menurut Baron, olahraga tradisional tersebut memiliki nilai budaya yang penting untuk terus dilestarikan karena saat ini sudah semakin jarang dipertandingkan di berbagai tempat.
"Yang menarik adalah lomba Sepak Rago, sebab perlombaan ini jarang dilakukan di tempat lain," ujar Baron.
Ia berharap olahraga Sepak Rago tidak tergerus oleh perkembangan zaman di tengah semakin banyaknya pilihan olahraga modern saat ini. Menurutnya, pada era 1980-an hingga 1990-an, Sepak Rago merupakan salah satu permainan yang cukup populer di kalangan laki-laki Minangkabau.
"Di tahun 80-an sampai 90-an, Sepak Rago menjadi olahraga kaum laki-laki di Minangkabau. Biasanya dimainkan pada sore hari hingga menjelang Magrib," katanya.
Sementara itu, Tua Rago Kota Padang, Edwar, mengatakan perkembangan Sepak Rago terlihat cukup pesat, terutama sejak tahun 2000 hingga saat ini. Menurutnya, keberadaan organisasi Sepak Rago di tingkat kecamatan maupun Kota Padang turut mendorong perkembangan olahraga tradisional tersebut.
"Untuk sekarang, apalagi dari tahun 2000 sampai sekarang, perkembangannya sangat pesat. Di Kota Tangah ini sudah ada Persatuan Sepak Rago Kota Tangah, dan untuk Kota Padang juga sudah ada Persatuan Sepak Rago Kota Padang," ujar Edwar.
Ia menambahkan, Sepak Rago kini tidak hanya berkembang sebagai permainan tradisional di tengah masyarakat, tetapi juga telah mendapat pengakuan sebagai bagian dari warisan budaya. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk terus mempertahankan keberadaan Sepak Rago di tengah perkembangan olahraga modern.
Edwar berharap pelestarian Sepak Rago tidak hanya menjadi perhatian masyarakat berusia 40 tahun ke atas. Keterlibatan generasi muda, khususnya pelajar SMA dan mahasiswa, dinilai sangat penting agar keberlangsungan olahraga tradisional tersebut tetap terjaga.
"Harapan kami sebagai Tua Rago, ini bukan diminati oleh kaum yang 40 tahun ke atas. Kalau bisa sekarang, mulai dari anak-anak SMA sampai anak-anak kuliah sangat meminati permainan ini," katanya.
Karena itu, Edwar mendorong agar berbagai kegiatan dan turnamen Sepak Rago semakin sering digelar, termasuk dalam rangka mengisi momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurutnya, turnamen Sepak Rago tidak hanya dapat menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali permainan anak nagari kepada generasi muda sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya Minangkabau.
Dengan semakin banyaknya kegiatan dan keterlibatan generasi muda, Sepak Rago diharapkan tidak sekadar menjadi permainan masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan warisan budaya Minangkabau yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.(hdr)